Guru Tidak Boleh Mengajar Sambil Makan

Diposting oleh Mustaqim on Minggu, 19 Agustus 2012

Coba bayangkan, bagaimana lucunya suara seorang guru jika saat menerangkan mata pelajaran sambil mengunyah makanan? Tentunya, kata-kata yang diucapkan olehnya tidak akan terdengar jelas karena dibarengi makan. Padahal, seharusnya tempat keluarnya suara (mulut) harus kosong jika ingin kata-kata terdengar jelas.


Seorang guru yang mengajar sambil mengunyah makanan akan merepotkan muridnya dalam memahami sesuatu yang dikatakan olehnya. Boleh jadi, muridnya akan meminta kepadanya agar mengulang kembali sesuatu yang sudah dikatakan olehnya. Oleh karena itu, efektivitas belajar-mengajar akan terganggu jika guru mengajar sambil makan.

Ditinjau dari sudut pandang etika, tingkah laku seorang guru yang mengajar sembari makan merupakan tingkah laku yang tidak sopan. Sebab, guru yang demikian tidak bisa membedakan tempat makan dan tempat mengajar, serta tidak dapat mengatur waktu untuk makan dan mengajar. Sudah jelas tempat makan adalah warung makan, restoran, dan rumah. Jadi kelas bukanlah tempat yang tepat untuk makan bagi seorang guru, apalagi saat mengajar.

Guru sebagai teladan seharusnya memberikan contoh yang baik mengenai tempat dan waktu makan yang tepat. Murid tentu saja sangat menginginkan belajar sambil makan dibandingkan gurunya yang makan saat mengajar. Selain itu, sebagian murid cenderung mengalami kejenuhan ketika mengikuti pengajaran. Namun, keinginan untuk makan ini tidak mungkin diwujudkan karena setiap sekolah menerapkan aturan yang melarang para murid untuk makan saat berlangsung kegiatan belajar-mengajar.

Larangan makan diterapkan karena makan ketika kegiatan belajar-mengajar akan mengacaukan suasana belajar-mengajar. Bunyi mengunyah makanan dan bau makanan akan menyebar di mangan kelas. Sehingga, konsentrasi belajar akan terganggu. Apalagi pads saat yang sama, murid yang satu dengan murid yang lain membawa makanan yang berbeda. Kemungkinan akan terjadi dialog masalah makanan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pelajaran.

Kasus semacam ini terkesan aneh dan lucu. Akan tetapi, kasus tersebut tidak menutup kemungkinan dialami oleh beberapa guru yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan ngemil.

Maka dari itu, aturan untuk tidak makan di dalam kelas saat belajar-mengajar tidak hanya diterapkan pada murid, tetapi juga guru. Efektivitas dan efisiensi belajar-mengajar akan berlangsung dengan tenang jika bisa menempatkan waktu dan tempat untuk makan dan belajar.

Walaupun demikian, ada beberapa alasan yang dapat menolerir seorang guru yang mengajar sambil makan, yakni saat mengajar pelajaran yang berkaitan dengan kuliner. Guru mendemonstrasikan cara memasak. Guru boleh memakan hasil praktik membuat masakan dengan tujuan memberikan penilaian terhadap hasil masakan yang dipraktikkan muridnya.

Selain itu, seorang guru juga boleh makan, baik berupa nasi atau camilan, saat mengajar ketika ia terserang penyakit yang mengharuskan dirinya tidak boleh terlambat makan atau makan pada waktu yang ditentukan oleh dokter. Namun, alangkah baiknya jika sebelum makan, ia memberitahukan kepada muridnya mengenai alasan dirinya harus makan saat mengajar agar muridnya tidak mencontohnya bila tidak punya kekhususan waktu makan, sebagaimana yang terjadi padanya.

Alasan lain yang boleh dilakukan oleh guru yang mengajar sambil makan adalah memberikan contoh tentang cara makan yang baik kepada muridnya. Karena ini hanya contoh, jelaslah bahwa guru tidak akan makan seterusnya atau tidak akan makan sejak awal hingga akhir pelajaran.

Artikel terkait :



{ 0 komentar... baca komentar dibawah or tulis komentar }

Posting Komentar